KabarJombang.com – Ketika pertama kali mendengar bahwa Kuliah Pengabdian Masyarakat Internasional (KPMI) tahun ini akan dilaksanakan di Malaysia, aku tidak menyangka betapa besar arti perjalanan ini bagiku bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi juga sebagai manusia.
Aku datang bersama dua rekan seperjuangan, Anastasya dan Putri. Kami bertiga dari Lintas Fakultas dan Prodi Untuk berkolaborasi Yesi Aprillia Fakultas Kesehatan UNIPDU berkolaborasi dengan rekan nya pendidikan agama Islam dan pendidikan bahasa inggris berangkat dengan satu tujuan sederhana: membawa manfaat bagi sesama, sejauh apa pun jaraknya.
Tempat pengabdian kami adalah PRINU (Pengurus Ranting Istimewa Nahdlatul Ulama) di Jalan Kebun, Shah Alam, Selangor, sebuah wilayah yang menjadi rumah bagi banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di sana, kehidupan berjalan dalam ritme kerja keras dan kerinduan pada tanah air.
Malam itu, Kamis, 28 Agustus 2025, udara di Shah Alam cukup lembap. Kami mulai membuka stand kecil bertuliskan “Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk PMI”. Meja sederhana, alat pemeriksaan tekanan darah, glucometer, dan beberapa lembar formulir — itulah peralatan kami malam itu.
Satu per satu, para pekerja datang. Ada yang baru pulang dari pabrik, ada yang datang bersama teman-teman sekamarnya. Beberapa tampak malu-malu, sebagian langsung bercerita panjang. “Saya sering pusing, Mbak, mungkin darah tinggi,” kata seorang bapak paruh baya sambil tersenyum kikuk.
Aku memeriksa tanda-tanda vitalnya — tekanan darah tinggi, kadar asam urat di atas normal. Bukan kasus langka. Hampir setiap orang yang kami periksa malam itu punya keluhan serupa: hipertensi, kolesterol, dan asam urat.
Aku bisa melihat bagaimana kerasnya hidup di negeri orang meninggalkan jejak bukan hanya di tubuh, tapi juga di hati mereka.
Namun kegiatan kami bukan sekadar memeriksa. Kami ingin memberi sesuatu yang lebih: rasa diperhatikan. Kami mendengarkan keluhan mereka, memberi sedikit pengobatan awal, dan berbagi tips menjaga pola makan di tengah rutinitas kerja yang padat.
Sebagian besar dari mereka tidak punya waktu, bahkan keberanian, untuk pergi ke klinik resmi. Bukan karena tidak peduli pada kesehatan, tapi karena terbatasnya akses dan kekhawatiran biaya.
“Sudah lama saya tidak diperiksa, Mbak,” ujar seorang ibu yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. “Biasanya kalau sakit, ya minum obat warung.” Ucapan itu membuatku terdiam lama. Malam itu aku benar-benar sadar — bagi mereka, sehat bukan hal yang mudah.
Kami juga membuka layanan Terapi Komplementer Akupunktur, untuk membantu meredakan nyeri dan stres. Banyak dari mereka tertarik, mungkin karena jarum kecil itu terasa seperti simbol harapan — sekecil apa pun, tetap bisa memberi rasa lega.
Oleh: Yesi Aprilia – Mahasiswa Fakultas Kesehatan, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang
Leave a Comment