Bedah film dan novel ‘Ibadah dan Cinta’ di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Asrama Al-Bisri, Denanyar, Jombang. (Kevin Nizar)
JOMBANG, KabarJombang.com – Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Asrama Al-Bisri, Denanyar, Jombang, menjadi salah satu tempat digelarnya bedah film dan novel ‘Ibadah dan Cinta’, Jumat (28/8/2026) sore.
Film bergenre drama, romance, dan bernuansa religi tersebut dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 24 September 2026. Film produksi Sinemata Buana Kreasindo itu disutradarai Jastis Arimba dan ditulis Ifan Adriansyah Ismail.
Saat diwawancarai, Jastis Arimba, selaku Sutradara mengatakan, ‘Ibadah dan Cinta’ tidak sekadar menyajikan kisah percintaan, tetapi juga mengangkat persoalan keluarga, kehilangan, hingga bagaimana seseorang belajar mengikhlaskan.
“Film Ibadah dan Cinta ini adalah film drama keluarga bernilai religi yang bercerita tentang bagaimana kita memaknai arti cinta, kehilangan, dan mengikhlaskan,” ujar Jastis saat ditemui dalam kegiatan bedah film di Denanyar, Jombang.
Cerita film berpusat pada karakter Rico, seorang anak muda asal Australia yang pada awalnya bersikap agnostik dan mempertanyakan nilai-nilai ketuhanan maupun agama.
Perjalanan Rico kemudian mempertemukannya dengan Santun, seorang ustazah muda yang cerdas, anggun, memiliki prinsip kuat, serta merupakan putri dari seorang kiai pemilik pesantren.
Keduanya kemudian dipertemukan dalam sebuah hubungan yang menghadirkan berbagai persoalan. Perbedaan latar belakang dan kultur menjadi salah satu tantangan yang harus mereka hadapi.
Menurut Jastis, kisah tersebut sekaligus menjadi gambaran pertemuan dua dunia yang berbeda, yakni kehidupan pesantren dengan kultur masyarakat Australia yang modern. Menariknya, proses produksi film dilakukan di Indonesia dan Australia.
“Bagaimana dua keragaman budaya, dua karakter potret kehidupan yang berbeda, bisa disatukan oleh cinta itu sendiri,” jelasnya.
Selain kisah percintaan, Jastis menyebut film ini juga sengaja dikemas sebagai tontonan keluarga. Ia berharap penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga bisa ikut merasakan emosi dari persoalan yang dialami para tokohnya.
“Ini film keluarga yang sangat menggugah jiwa, sangat emosional. Film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga-keluarga Indonesia,” katanya.
Bahkan, Jastis menyebut ada banyak adegan yang menurutnya mampu menguras emosi penonton. “Banyak bawa tisu, karena memang film ini sangat menguras emosi,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan film tersebut tidak melulu menghadirkan suasana haru. Unsur komedi dan sisi romantis juga tetap diberikan untuk membuat cerita lebih ringan dan dekat dengan penonton.
Film ‘Ibadah dan Cinta’ juga memiliki hubungan khusus dengan Fatayat NU. Sejak proses pembuatannya, organisasi tersebut disebut memberikan dukungan terhadap film ini. Salah satu tokoh Fatayat NU, almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah, yang sebelumnya menjabat Ketua Umum PP Fatayat NU, juga menjadi bagian dari pemeran dalam film tersebut.
Pj Ketua Umum PP Fatayat NU Dewi Winarti mengatakan, karakter perempuan dalam film tersebut menjadi salah satu pesan penting yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Sosok Santun digambarkan sebagai perempuan dari keluarga pesantren, seorang guru ngaji yang taat dan memiliki prinsip kuat. Namun, ia kemudian menghadapi tantangan ketika jatuh cinta kepada laki-laki dengan latar belakang kultur berbeda.
Menurut Dewi, karakter tersebut menggambarkan pentingnya perempuan mempertahankan nilai dan prinsip yang diyakininya benar.
“Hal yang prinsip itu tetap harus kita perjuangkan jika itu benar, ketika itu berhadapan dan bertentangan dengan sebuah kultur atau budaya,” kata Dewi.
Ia juga menilai keterlibatan almarhumah Margaret dalam film tersebut meninggalkan pesan tersendiri bagi keluarga besar Fatayat NU. Dewi mengaitkan pesan film tentang cinta, kehilangan, dan keikhlasan dengan perjalanan organisasi Fatayat NU.
“Cinta itu tumbuh karena dirawat. Fatayat NU ini akan kita rawat dengan cinta,” ujarnya.
Salah satu pemeran, Berliana Lovell, yang memerankan karakter Nissa, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama terlibat dalam film ‘Ibadah dan Cinta’.
Menurut Berliana, salah satu tantangan terbesarnya adalah ketika harus mengenakan kerudung. Ia mengaku belum terbiasa mengenakannya.
“Yang paling challenging adalah pakai kerudung. Karena kan enggak biasa,” ungkapnya.
Ia juga mengaku masih dalam proses belajar mendalami karakter dan nilai-nilai Islam yang dibutuhkan untuk perannya. Meski begitu, Berliana justru merasa nyaman selama menjalani proses tersebut.
“Awalnya benar-benar baru belajar. Tapi ternyata nyaman, terus jadinya lebih betah aja pakai kerudung,” kata seorang mualaf tersebut.
Dalam film tersebut, Berliana memerankan karakter perempuan Muslimah yang ceria, lucu, dan memiliki karakter centil.
Tantangannya, katanya, adalah bagaimana karakter tersebut tetap terlihat menarik tanpa keluar dari batas karakter seorang Muslimah.
“Gimana caranya si centil ini enggak melewati batas ke-Islamannya. Aku kan pakai kerudung tapi harus berperan sedikit centil, tapi gimana caranya centilnya jadi tidak murah,” ujarnya.
Berliana mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk menerima tawaran bermain dalam film tersebut.
“Langsung gas aku,” katanya sambil tertawa.
Film ‘Ibadah dan Cinta’ dijadwalkan mulai tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 24 September 2026.
Leave a Comment