Hari Penglihatan Sedunia, Kasus Katarak Dominasi Penyakit Mata

Dokter Spesialis Mata sekaligus pengurus Perdami, M Sjarifuddin saat ditemui dikantor IDI Jombang, (Foto: Anggraini).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com- Peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh Rabu (14/10/2020) dengan kondisi pandemi Covid-19 cukup sunyi. Demikian ini karena terbatasnya kegiatan yang harus dilakukan secara massal.

Namun, tidak menutup kemungkinan, bahwa kelainan atau penyakit pada mata tidak bisa terhindar. Khususnya katarak yang tidak memandang kondisi.

Baca Juga

Hari peringatan ini akan selalu diperingati setiap hari Kamis kedua di bulan Oktober. Dan untuk Perdami (Persatuan Dokter Spesialis Mata Jawa Timur).

Setiap tahunnya peringatan tersebut memiliki grand tema yang berbeda-beda dan tema besar tahun ini secara Internasional adalah “Hope In Sight atau Penglihatan adalah Harapan”. Sedangkan secara Nasional sendiri mengusung tema “Mata Sehat Indonesia Maju”.

Dari tema yang digaungkan Indonesia tersebut perlu adanya peran dan komitmen politik dari negara atau pemerintah dalam memberikan akses atas hak-hak kesehatan mata dari harapan setiap orang. Dengan itu maka kualitas SDM Indonesia akan tinggi dan Indonesia akan bisa maju.

Artinya bahwa penglihatan baik merupakan hak yang bisa diperoleh seluruh manusia. Dimana terdapat dua implikasi yang ditimbulkan yakni dari sisi masyarakat. (meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemeriksaan sejak dini dalam menjaga penglihatannya sehingga dapat mencegah gangguan penglihatan).

Sementara dari sisi negara/pemerintah/Internasional/PBB/WHO harus memastikan secara politik bahwa masyarakat harus bisa mengakses fasilitas kesehatan khususnya mata.

Dokter Spesialis Mata di Jombang sekaligus pengurus Perdami, dr M Sjarifuddin, memaparkan, bahwa hari penglihatan sedunia ini diperingati setiap tahunnya karena sebagai bentuk kewaspadaan bagi setiap orang terhadap penglihatan.

Pihaknya mengaku bahwa petingatan itu tidak bisa dilakukan dengan massal seperti pada tahun-tahun sebelumnya sehingga hanya sebatas melakukan pelayanan gratis kepada masyarakat yang benar-benar tidak mampu dan membutuhkan pemeriksaan.

Dikatakan, pihak akan mengadakan pelayanan baik pengobatan hingga operasi mata dengan syarat. Diantaranya, masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan harus menunjukkan surat keterangan tidak mampu, yang tidak tercover BPJS.

“Sehingga bisa dilakukan penindaklanjutan sesuai dengan apa yang perlu diperiksa, pengobatan apa yang diperlukan bahkan operasipun kami akan lakukan secara gratis khusus dibulan Oktober ini,” ujar dr Sjarifuddin kepada KabarJombang.com, Rabu (14/10/2020).

Menurutnya, gangguan penglihatan dari kebutaan mencapai angka 75 persen yang bisa dicegah dengan pemeriksaan sejak dini. Sehingga tidak sampai terjadi kebutaan. Ada beberapa gangguan penglihatan penting yang ditekankannya untuk bisa dicegah yakni, katarak, kelainan refraksi, penurunan fungsi napula (faktor usia), dan glaukoma.

Dari empat gangguan penglihatan tersebut ada dua jenis yang bisa dicegah dan disembuhkan. Yakni katarak dan klainan refraksi (mata minus, plus, dan silinder).

Selain itu, lanjut dr Sjarifuddin, dua jenis gangguan penglihatan selanjutnya yakni ritinopati diabetik dan glaukoma. Jika sudah terjadi kerusakan pada tingkat sekian, justru pengobatannya hanya dalam bentuk pencegahan. Mencegah menjadi lebih parah, dimana pengobatannya tidak bisa dikembalikan seperti sebelumnya.

“Penyebab kebutaan secara garis besar disebabkan karena katarak. Dan terbanyak menyerang pada usia diatas 50 tahun keatas atau usia lanjut. Namun, katarak juga bisa menyerang semua usia juga bisa dari bayi dilahirkan juga bisa terserang,” ungkapnya.

Dokter Sjarifuddin juga mengatakan, jika gangguan penglihatan khususnya di Jombang paling banyak adalah katarak. Bahkan Jawa Timur menduduki peringkat kedua dalam kasus katarak berdasakan survey tentang kebutaan tahun 2014/2016.

“Sayangnya di Jombang masih belum ada data yang menunjukkan berapa kasus katarak jumlahnya berapa. Tapi jumlah pasien yang datang dikami untuk melakukan pengobatan itu paling banyak pasien dengan gangguan penglihatan adalah katarak,” bebernya.

Diterangkannya bahwa jenis katarak secara garis besar ada dua yakni fisiologis dan patologis.

Fisiologis merupakan penyakit katarak yang kabur tapi normal, yang terjadi karena disebabkan penuaan. Dan biasanya terjadi sata usia 60 tahun keatas, karena adanya gangguan metabolisme. Dimana lensa mulai banyak timbunan air, mulai mencembung, kekeruhan yang akhirnya menimbulkan katarak.

Dari insipien (sangat tipis), imatur (agak tebal dikit), hingga matur (kekeruhan total) bahkan ada yang hipermatur. Dengan waktu yang berbeda-beda dari setiap orang.

Ia juga menegaskan bahwa katarak ini pasti terjadi pada manusia hanya saja belum diketahui munculnya sejak kapan.

“Katarak juga bisa disebabkan karena banyaknya terpapar sinar matahari langsung dan itu akan lebih cepat,” singkatnya.

Sementara patalogis itu sendiri juga bisa disebabkan sejak bayi mulai lahir kongenital, bisa faktor keturunan, tapi yang sering terjadi adalah infeksi atau inflamasi yang terjadi pada ibu hamil, yang biasanya karena infeksi virus rubella. Bisa juga disebabkan karena jatuh dan kesetrum. Dengan hitungan hari, bulan, hingga tahunan.

Katarak pada usia bayi disebut inflatil, katarak pada usia remaja disebut juvenil, dan katarak pada usia lanjut disebut senilis.

“Munculnya katarak juga bisa disebabkan karena diabet, minum-minuman yang mengandung steroid. Jadi memang harus waspada. Dan katarak hanya bisa diobati, dihilangkan dengan operasi,” katanya.

“Penglihatan yang baik adalah hak setiap manusia dan tidak memandang usia. Sehingga perlu adanya keselarasan untuk saling mendukung, saling berperan aktif, dalam kegiatan pencegahan kebuataan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang kita cintai atau untuk masyarakat lain,” tandasnya lagi.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait