Hanya 45 Obyek Wisata Terdata di Jombang, Disporapar: Masih Banyak Belum Koordinasi

Darmanto, Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Wisata Kabupaten Jombang. (Foto: Daniel)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Bermunculnya tempat wisata di Jombang, rupanya tidak disertai pelaporan ke dians terkait. Hingga saat ini, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang mencacat, hanya ada 45 obyek wisata yang masuk lis atau daftar.

Dari jumlah tersebut, 11 di antaranya merupakan wisata alam dan 34 wisata buatan yang tersebar di berbagai kecamatan se-Kabupaten Jombang. Wisata-wisata tersebut dikelola beberapa pihak, seperti Perhutani, Pemkab Jombang, Pemdes, BP3 Trowulan, Jasa Tirta, BUMD Jombang, Yayasan, swasta atau perorangan.

Baca Juga

“Data daya tarik wisata Kabupaten Jombang terbagi menjadi dua, ada wisata alam dan buatan. Seperti contoh air terjun Tretes dikelola Perhutani dan bekerjasama dengan pihak desa setempat. Contoh lagi Sendang Made yang dikelola BP3 Trowulan. Kalau sudah bekerjasama seperti ini kita tidak diperkenankan merubah, merusak dan lain sebagainya,” ungkap Darmanto, Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Wisata Kabupaten Jombang, Senin (19/10/2020).

Darmanto mengatakan, data obyek wisata tersebut merupakan data resmi dan sudah masuk ke dalam database Disporapar Jombang. Pihaknya tak menampik, jika masih ada obyek wisata yang pengelolanya belum berkordinasi atau memberikan informasi pada Disporapar, hingga saat ini.

“Seperti contoh di Wonosalam. Ada sekitar 50 obyek wisata di sana. Tapi yang terdaftar di kami masih segini. Pihak Kepala Desa atau Kecamatan setempat belum mengirimkan data kepada kami. Mungkin, karena pekerjaan mereka banyak ya, hingga belum sempat member data ke kami,” ujarnya pada KabarJombang.com.

Banyak hal yang tidak bisa didapat, kala pengelola obyek wisata tidak melakukan pendataan pada Disporapar. Selain tidak bisa dilakukan monitoring, kata Darmanto, juga tidak bisa mendapatkan pelatihan terkait tata kelola dan manajemen, sebagai dukungan pemerintah terhadap destinasi wisata.

Keuntungan mendaftar, lanjut Darmanto, akan mempermudah penganggaran terkait perencanaan dan pelatihan pada obyek wisata, dan sebaliknya.

“Kalau untuk Situs Sumberbeji, atau destinasi baru di Jogoroto dan destinasi baru lainnya, sampai saat ini belum ada koordinasi. Kita mendengar tapi belum ke sana. Sedangkan kalau yang sudah terdaftar kan kita monitoring kesana,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait