Es Lilin Zaman Penjajahan Belanda, Masih Ada di Jombang

Sutikno dan es lilin jadul yang diproduksinya. (Foto: DianaKN). 
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Di Jombang, masih ada jajanan es, yang  mulai ada pada zaman penjajahan Belanda ketika itu. Es jadul tersebut masih eksis dibuat oleh produsen yang satu-satunya di Jombang.

Ttujuannya membuat sebuah kenangan akan nostalgia masa dulu dengan sesuatu yang dapat dikonsumsi kebanyakan orang. Maka inilah yang membuat sebuah ide seorang pensiunan PNS di Desa Kaliwungu, Kecamatan/Kabupaten Jombang, membuat sebuah rumah produksi es jadul tersebut.

Baca Juga

Adalah Sutikno (70) yang di masa menikmati hari tuanya membuat sebuah usaha es jadul yang sangat digemari saat masa penjajahan Belanda dahulu.

“Awalnya sudah saya rencanakan kalau di masa pensiun, saya harus punya kegiatan yang produktif di masa tua. Sehingga saya berfikir untuk membuat usaha yang lain daripada lain dan tidak mudah dilupakan oleh banyak orang mulai dari nama, rasa, dan kualitas.”tuturnya kepada KabarJombang.com Sabtu (31/10/2020).

Dalam pemilihan usahanya itu adalah membuat es jadul tersebut, diakuinya tidak sembarangan dalam segi perencanaan sampai pelaksanaanya.

Menurutnya sudah dikonsep dengan matang apa yang mau kan dibuat. Diantaranya mulai dari kenapa harus es lilin jadul, dari namanya juga harus banyak orang mudah kenal , juga dari rasa sudah benar-benar menguji rasa dan bahan yang terbaik.

“Termasuk juga bungkus yang ramah lingkungan hanya dari kertas.” ungkapnya.

Es jadul yang menyerupai lilin  buatan Sutikno dibeberkannya memakai bahan-bahan yang tidak berbahaya karena memakai bahan tanpa pengawet.

“Kalau bahannya tahu gak lagu ‘es lilin mah cece, kelapa muda’ ya itu memang benar, bahannya memang itu. Saya otak atik dengan bahan lain yang tentunya tidak ada pengawet. Makanya kita kalau pas produksi bertahannya gak bisa lama juga karena tidak ada pengawet.” jelas produsen es jadul yang sudah mengirim produknya sampai Jakarta dan Bekasi tersebut.

Mengenai harga, satu batang es jadul milik Sutikno dipatok harga Rp 4 ribu. Menurutnya harga yang logis karena bahan yang dia gunakan tidak berpengawet.

“Mungkin kalau sebagian orang bilang itu mahal, tapi setelah tau rasanya saya kira akan puas dengan rasanya. Karena bahan yang kami gunakan tidak berpengawet dan gula asli, juga air yang digunakan air matang, mungkin beda sama yang lain.”terangnya.

Tidak mengurangi kenangan dan nostalgia es jadul tersebut. Sutikno sengaja menyamakan bentuk dan tremos yang digunakan pedagan kelilingnya menjajakan es jadul miliknya.

“Memang sengaja saya samakan persis, bentuknya dan tremosnya yang jadul itu sama, hanya rasa yang saya sesuaikan. Tremosnya cari yang model begitu gak gampang, susah carinya. Tapi tetap masih saya cari karena saya ingin kenangan nostalgia es jadul itu masih dirasakan di era yang seperti ini.”tutup Sutikno yang memulai memproduksi es jadulnya di tahun 2010 itu.

 

 

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait