Ekonomi

Kreatif, Olah Limbah Jadi Karya Seni, Pemuda Wonosalam Jombang Ini Raup Cuan dari Kostum Karnaval

WONOSALAM, KabarJombang.com – Siapa bilang limbah hanya berakhir di tempat sampah? Di tangan Hari Suciono, limbah justru menjadi bahan baku utama untuk menciptakan kostum karnaval yang megah dan bernilai seni tinggi. Pemuda asal Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang ini sukses membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.

Hari, yang kini berusia 35 tahun, mulai merintis usaha pembuatan kostum karnaval sejak tahun 2017. Berawal dari keterbatasan modal, ia mencoba membuat kostum dari bahan seadanya, termasuk spons bekas, biji-bijian, hingga bulu sintetis yang tak terpakai. Siapa sangka, karya pertamanya justru keluar sebagai juara di karnaval desa.

“Dulu cuma iseng karena nggak ada biaya buat beli bahan baru dan memanfaatkan bahan seadanya. Tapi malah banyak yang suka dan mulai datang pesanan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (24/7/2025).

Proses kreatif tersebut dilakukan di teras rumahnya yang sederhana. Dibantu sang paman, Hari mengubah busa bekas menjadi struktur kostum, lalu menghiasinya dengan bahan alam maupun limbah nonorganik agar tampil memukau. Tema kostumnya pun beragam, dari budaya lokal seperti Reog dan pakaian adat, budaya khas Kalimantan atau Ibu Kota Negara (IKN) hingga maskot kerajaan dan tokoh fantasi.

Setiap kostum membutuhkan waktu pengerjaan antara beberapa hari hingga sebulan, tergantung kompleksitas desain. Menjelang bulan Agustus, saat musim karnaval tiba, pesanan meningkat tajam. Konsumen datang dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo.

Hari menyediakan dua layanan: penyewaan dan pembelian langsung. Harga sewa berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp1 juta per kostum, sementara harga jual bisa mencapai Rp3 juta, tergantung detail dan bahan yang digunakan.

Yang menarik, hampir seluruh bahan dasar merupakan limbah yang disulap menjadi ornamen bernilai seni tinggi. Prinsip yang dipegang Hari sederhana: “Tidak ada sampah selama kita bisa melihat peluang di dalamnya.”

Dengan permintaan yang terus mengalir, terutama saat momentum Hari Kemerdekaan, Hari mengaku omzet bulanannya bisa menembus puluhan juta rupiah. Bisnis berbasis kreativitas ini tak hanya mengangkat perekonomian keluarga, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan.

“Ini hasil dari terus belajar dan pantang menyerah. Setiap tahun pasti ada tren baru, jadi harus terus berinovasi. Yang penting niatnya tulus dan konsisten,” tutupnya.

Lewat tangan-tangan kreatif seperti Hari, limbah bukan hanya diselamatkan dari tempat sampah, tapi diangkat menjadi identitas budaya yang membanggakan. Bukti bahwa dari desa pun, karya besar bisa lahir.

 

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar