Foto : Salah satu pengrajin tahu di Desa Mayangan, Jogoroto, Jombang. (Kevin Nizar)
JOGOROTO, KabarJombang.com – Kenaikan harga kedelai di Jawa Timur mulai memberi tekanan pada pelaku usaha tahu di Kabupaten Jombang. Meskipun lonjakannya belum terlalu signifikan, kondisi ini sudah berdampak pada meningkatnya biaya produksi dan menipisnya margin keuntungan perajin.
Kepala Dusun Murong Pesantren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Imam Subeki, mengatakan harga kedelai di wilayah Jombang mengalami kenaikan sekitar Rp200 hingga Rp300 per kilogram dalam beberapa waktu terakhir. Imam juga merupakan Ketua Paguyuban Tahu Sumber Berkah Desa Mayangan.
“Dampaknya pasti ada, terutama pada keuntungan. Tapi selama harganya masih di bawah Rp10 ribu per kilogram, kami masih berusaha bertahan,” ujarnya, Selasa (27/1/2026), saat ditemui di lokasi produksi tahu.
Ia menjelaskan, sebelumnya harga kedelai berada di angka Rp9.200 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp9.500 hingga Rp9.600 per kilogram. Untuk menyiasati kondisi tersebut, sebagian perajin terpaksa menyesuaikan ukuran atau isi tahu, meski langkah itu tidak bisa dilakukan terus-menerus.
“Kalau terlalu sering mengurangi ukuran tahu, konsumen pasti protes. Jadi tidak mungkin setiap hari kami ubah potongan tahu,” jelasnya.
Menurut Imam, fluktuasi harga yang terjadi secara cepat menyulitkan perajin dalam menentukan kebijakan produksi. Perubahan ukuran produk yang terlalu sering dikhawatirkan menurunkan kepercayaan pembeli.
“Kalau hari ini besar, besok mengecil lagi, konsumen akan mempertanyakan. Tidak mungkin setiap hari tahu menyusut,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kapasitas produksi tahu di kawasan tersebut bervariasi, bergantung pada skala usaha masing-masing. Secara keseluruhan, kebutuhan kedelai untuk industri tahu di wilayah itu diperkirakan mencapai sekitar 80 ton per hari.
Keluhan serupa disampaikan pemilik usaha Tahu Iwan Jaya, Muhammad Heri Susiawan. Ia menyebutkan, dalam sepekan terakhir harga kedelai naik sekitar 3 persen, dari Rp9.200 menjadi Rp9.500 per kilogram, dan masih berpotensi meningkat.
“Kenaikannya memang bertahap, sekitar Rp100 per hari, tapi dampaknya cukup terasa karena mempengaruhi biaya produksi,” ujarnya.
Iwan menjelaskan, meskipun kenaikan terlihat kecil, jika dihitung dalam skala produksi harian, tambahan biaya yang muncul bisa mencapai ribuan rupiah setiap kali produksi. Untuk sementara, pihaknya memilih menekan keuntungan tanpa menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran tahu.
“Harga di tingkat konsumen masih kami pertahankan. Kalau langsung dinaikkan, dikhawatirkan pasar tidak menerima,” tuturnya.
Ia juga mengaku cemas jika tren kenaikan harga kedelai berlangsung lama. Pasalnya, beberapa bulan lalu perajin tahu sempat menghentikan produksi akibat lonjakan harga bahan baku yang terus terjadi.
“Pengalaman sebelumnya, kami sampai mogok produksi karena harga kedelai terus naik,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, para perajin berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga kedelai. Mereka menilai kestabilan harga bahan baku sangat penting demi keberlangsungan usaha kecil dan menengah, khususnya industri tahu di daerah.
“Sedikit demi sedikit naik, tapi dampaknya besar bagi kami. Perajin sangat merasakan efeknya,” pungkasnya.
Leave a Comment