Ekonomi

Dilema Peternak Ayam Jombang: Telur Murah, Pakan Melejit

BANDARKEDUNGMULYO, KabarJombang.com — Kondisi peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat turunnya harga telur dalam beberapa minggu terakhir. Penurunan harga jual itu terjadi bersamaan dengan meningkatnya biaya pakan ternak, sehingga margin keuntungan peternak semakin menipis.

Seorang peternak ayam petelur asal Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Fatkurrohman, mengungkapkan bahwa harga telur sempat berada di level Rp21 ribu per kilogram. Menurutnya, meski saat ini harga mulai bergerak naik, nilainya masih belum cukup untuk menutup biaya produksi secara keseluruhan.

“Sekarang sudah ada kenaikan sedikit. Informasi terakhir harga di Blitar sekitar Rp23 ribu per kilogram,” ujar Fatkurrohman, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, harga telur ideal bagi peternak berada pada kisaran Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram agar usaha ternak masih menghasilkan keuntungan. Jika harga berada di bawah angka tersebut, pendapatan peternak hanya cukup untuk membiayai kebutuhan operasional harian.

Menurutnya, turunnya harga telur dipicu oleh melimpahnya produksi di tingkat peternak yang tidak diimbangi penyerapan pasar secara maksimal. Ia menilai banyak peternak sebelumnya meningkatkan populasi ayam karena berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) mampu menyerap produksi telur lebih besar.

Fatkurrohman mengatakan hingga kini dampak program tersebut belum dirasakan secara signifikan oleh peternak.

“Banyak peternak menambah kandang karena berharap pasar dari MBG bisa menyerap hasil produksi, tetapi kenyataannya belum terasa,” katanya.

Di sisi lain, harga bahan baku pakan seperti jagung dan konsentrat terus mengalami kenaikan sejak periode Ramadan hingga usai Lebaran. Kondisi itu membuat biaya produksi semakin tinggi.

Akibat situasi tersebut, Fatkurrohman mengaku mengalami kerugian selama hampir satu bulan terakhir. Saat harga telur berada di angka Rp21 ribu per kilogram, kerugian yang dialaminya mencapai Rp300 ribu hingga Rp350 ribu setiap hari.

“Kalau harga masih di sekitar Rp23 ribu, kami hanya bisa menutup biaya operasional kandang dan tenaga kerja,” tuturnya.

Saat ini Fatkurrohman memelihara sekitar 5 ribu ekor ayam petelur, dengan sekitar 4 ribu ekor di antaranya masih produktif. Ia menyebut kebutuhan pakan untuk setiap seribu ekor ayam mencapai sekitar 120 kilogram per hari, belum termasuk tambahan vitamin dan suplemen.

Keluhan serupa juga disampaikan peternak asal Desa Mojotengah, Kecamatan Mojowarno, Eko Murdianto. Ia mengatakan kenaikan harga pakan dalam dua pekan terakhir terasa cukup signifikan.

Menurut Eko, sebelumnya harga pakan berada di kisaran Rp6.800 hingga Rp7 ribu per kilogram, namun kini naik menjadi Rp7.400 sampai Rp7.800 per kilogram.

“Kenaikan harga pakan sangat memberatkan. Sementara harga telur justru turun tajam, jadi peternak semakin kesulitan,” ujarnya.

1

Eko menambahkan, harga telur di tingkat peternak yang sebelumnya sempat menyentuh Rp26 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp22 ribu hingga Rp22.500 per kilogram.

Ia menilai stok telur di pasaran saat ini cukup melimpah, namun kondisi tersebut tidak diikuti kenaikan harga jual. “Barang banyak, tetapi harga malah turun. Ini yang membuat peternak terpukul,” katanya.

Para peternak berharap harga telur kembali stabil agar usaha peternakan ayam petelur tetap bertahan dan tidak banyak pelaku usaha yang terpaksa menghentikan produksinya.

Leave a Comment
Share
Published by
Kevin Nizar