Belum Genap Setahun Rumah Burung Hantu Senilai Rp 9,4 Juta di Jombang Rusak

Salah satu rumah burung hantu di Dusun Kramat, Desa Tanggung Kramat, Kecamatan Ploso Jombang, yang atapnya hilang. KabarJombang.com/M Faiz H/
Salah satu rumah burung hantu di Dusun Kramat, Desa Tanggung Kramat, Kecamatan Ploso Jombang, yang atapnya hilang. KabarJombang.com/M Faiz H/
  • Whatsapp

PLOSO, KabarJombang.com – Rumah burung hantu (rubuha) yang dibangun Dinas Pertanian Kabupaten Jombang senilai Rp 9,4 juta per unit. Kini kondisinya sudah rusak.

Seperti rubuha yang ada di areal persawahan Dusun Kramat, Desa Tanggung Kramat, Kecamatan Ploso Jombang, terlihat sudah tidak ada atapnya. Selain itu, rubuha tersebut juga tidak ditempati burung hantu.

Baca Juga

ucapan idul fitri kapolres jombang
ucapan idul fitri sadarestuwati
ucapan idul fitri PUPR
ucapan idul fitri Bappeda Jombang
Ucapan Idul Fitri Jombang
iklan bank jombang kredit
ucapan idul fitri BPKAD jombang
ucapan idul fitri BKDPP jombang
iklan Ramadhan Bappeda Jombang
ucapan idul fitri Disdik jombang
ucapan idul fitri dishub jombang
ucapan idul fitri PKB
ucapan idul fitri kemenag jombang
ucapan idul fitri satpol pp jombang

Salah seorang petani, Wakiran menuturkan para petani sudah tidak lagi mengandalkan burung hantu untuk membasmi hama tikus.

“Para petani kebanyakan sudah memakai setrum atau racun tikus di sawah. Karena, rumah burung hantu itu sudah tidak ada burung hantunya, selain itu juga tempanya sebagian sudah rusak,” ujar kakek berusia 55 tahun kepada KabarJombang.com, Kamis (3/6/2021).

Menurutnya, jika hanya mengandalkan burung hantu saja, tidak akan ampuh untuk mengatasi ataupun menjaga sawah para petani di Dusun Kramat, Desa Tanggung Kramat yang cukup luas.

Wakiran berharap, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang cukup memberikan bantuan racun tikus. Lantaran, rubuha yang dibangun dengan biaya cukup mahal tidak efisien membasmi tikus. Belum lagi kurangnya pemeliharaan.

“Kalau cuma burung hantu untuk menjaga sawah petani seluas ini, tidak akan ampuh. Maka saya berharap apabila ada bantuan untuk menjaga keamanan tumbuhan di sawah dari hewan, cukup dengan obat racun tikus,” kata dia menegaskan.

Dijelakan Wagiran, kosongnya rubuha tersebut juga disebabkan banyak burung hantu yang mati terkena racun maupun aliran listrik jebakan tikus yang dipasang petani.

“Rata-rata burung hantu itu mati gara-gara makan tikus yang terkena racun di sawah. Ini lagi, kalau petani pas pakai setrum di sawah, burung harus kalau menghampiri kan justru mati,” pungkasnya.

Para petani Dusun Kramat, Desa Tanggung Kramat, Kecamatan Ploso Jombang, lebih mengandalkan jebakan tikus beraliran listrik dibandingkan rubuha. KabarJombang.com/M Faiz H/
Para petani Dusun Kramat, Desa Tanggung Kramat, Kecamatan Ploso Jombang, lebih mengandalkan jebakan tikus beraliran listrik dibandingkan rubuha. KabarJombang.com/M Faiz H/

Jaminan rubuha ‘sultan’ tahan 10 tahun tak terbukti

Kepala Disperta Jombang, Pri Adi pernah menjamin pagupon senilai Rp 9 juta tersebut mampu bertahan lama hingga 10 tahun, dibanding pagupon seharga Rp 2,5 juta yang diprediksinya tiga tahun sudah rusak.

Namun kenyataan di lapangan rubuha yang dibangun belum genap satu tahun tersebut sudah rusak.

“Harga Rp 9 juta tersebut, selain biaya pembuatan dan biaya pemasangan, juga termasuk ada pajak dan K3,” kata dia, November 2020 lalu.

Sementara konsultan perencana menjelaskan, pagupon yang dibangun, memiliki tiga kaki penyangga dari besi setinggi 6 meter dari permukaan tanah, dan 1,1 meter di dalam tanah. Sedangkan kerangka pagupon dari besi siku dimensi 3 sentimeter, menggunakan triplek ketebalan 6 milimeter untuk bagian dalam, dan dilapisi ulang dengan seng gavalum.

Pagu anggaran Rubuha ini sebesar Rp 922 juta untuk 78 pagupon atau Rp 11,8 juta per pagupon. Dana tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan atau APBD-P atau biasa juga disebut PAK.

Dalam proses lelang, CV Moara Prabangkara menawar seharga Rp 734 juta, sehingga diperoleh harga sekitar Rp 9,4 juta per unit. Tawaran itu, membuat perusahaan ini menjadi pemenang pertama untuk sementara. (M Fa’iz H)

Berita Terkait