Ekonomi

Penggilingan Kopi Tradisional di Lereng Anjasmoro Wonosalam Tetap Eksis di Era Modern

WONOSALAM, KabarJombang.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pengolahan kopi, usaha penggilingan kopi tradisional di lereng Gunung Anjasmoro, tepatnya di Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, masih bertahan dan terus berdenyut hingga kini.

Usaha penggilingan kopi tradisional tersebut dikelola oleh Muhammad Dian Nur Wahid (25), generasi kedua yang meneruskan usaha keluarganya sejak awal tahun 2000-an. Meski peralatan modern semakin mudah dijumpai, Dian memilih tetap setia mempertahankan metode tradisional yang telah diwariskan oleh orang tuanya.

“Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 2000-an. Saya hanya meneruskan apa yang sudah dirintis orang tua,” ujar Dian saat ditemui di lokasi usahanya, Sabtu (17/1/2026).

Dalam proses produksinya, Dian masih mengandalkan tahapan pengolahan tradisional yang cukup panjang. Proses dimulai dari pemilihan biji kopi green bean berkualitas, kemudian dikeringkan secara manual. Setelah itu, biji kopi disangrai selama kurang lebih satu jam.

“Setelah disangrai, kopi didinginkan terlebih dahulu, lalu disortir kembali sebelum masuk proses penggilingan hingga menjadi bubuk,” jelasnya.

Kopi bubuk hasil gilingan tradisional tersebut kemudian dikemas dalam beberapa ukuran, di antaranya 250 gram dan 100 gram, sebelum dipasarkan ke konsumen.

Menurut Dian, pengolahan kopi secara tradisional memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan penggunaan mesin modern. Selain biaya produksi yang relatif lebih hemat, aroma dan cita rasa kopi dinilai lebih khas.

“Biaya produksinya lebih irit, dan aroma kopi dari proses tradisional itu beda,” ungkapnya.

Namun demikian, penggunaan alat tradisional juga memiliki tantangan, terutama dari sisi tenaga dan waktu. Proses manual membutuhkan tenaga ekstra serta ketelatenan yang tinggi.

“Tenaganya memang lebih berat,” ujarnya singkat.

Menariknya, seluruh alat penggilingan yang digunakan merupakan hasil rakitan sendiri. Dalam sehari, Dian mampu memproduksi hingga 20 kilogram kopi. Meski demikian, rata-rata penjualan harian berada di kisaran 2 kilogram. Dengan harga jual sekitar Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp6 juta per bulan.

Kopi produksi Dian dipasarkan dengan merek Nyoto Roso. Salah satu produk unggulannya adalah kopi ekselsa khas Wonosalam. Selain itu, ia juga memproduksi kopi arabika, robusta, serta robusta campuran.

Untuk harga, kopi ekselsa dijual Rp35 ribu per kemasan 250 gram atau Rp140 ribu per kilogram. Sementara kopi robusta campuran dibanderol Rp25 ribu untuk kemasan 250 gram dan Rp15 ribu untuk kemasan 100 gram.

Pemasaran kopi Nyoto Roso tidak hanya terbatas di wilayah Jombang. Pelanggannya berasal dari berbagai daerah, seperti Blitar, Tulungagung, hingga Kediri.

“Harapannya ke depan usaha ini bisa terus maju dan berkembang,” pungkas Dian.

Salah satu pelanggan setia, Rendar Putra (26), mengaku rutin mengonsumsi kopi ekselsa Wonosalam produksi Dian bersama keluarganya.

“Saya konsumsi setiap hari. Selain rasanya unik, ini juga bentuk kecintaan saya pada produk asli Jombang,” ujarnya.

Menurut Rendar, kopi tersebut kerap disajikan untuk menjamu tamu. Dari segi harga, ia menilai produk Nyoto Roso cukup terjangkau.

“Harganya masih ramah di kantong, apalagi rasanya memang beda,” tambahnya.

Di tengah modernisasi industri kopi, keberadaan penggilingan kopi tradisional seperti yang dijalankan Dian menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki ruang dan peminat. Harapannya sederhana, sebagaimana diungkapkan Dian, agar usaha ini terus bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Leave a Comment