Durian Jombang, Potensikah?

Salah satu pecinta buah durian asal Wonosalam yang nekad berburu meski di tahun 2017 ini, pohonnya tak banyak berbuah, Minggu (22/1/2017).
  • Whatsapp

Oleh : M Fauzi Fahan
(Mahasiswa Politeknik Statistika STIS)

Buah Durian, siapa yang tak mengenal buah dengan ciri khas berkulit tajam tersebut? Mungkin sebagian orang muak dengan aromanya yang menyengat, tapi karena rasa manisnya, tidak sedikit orang yang akhirnya jatuh cinta dengan buah durian.

Baca Juga

Buah Durian atau Raja Buah berasal dari pohon durian. Pohon ini merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang dapat tumbuh pada daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Jenis Durian Montong sering menjadi perbincangan karena harganya yang lebih mahal, daging buah yang tebal dan manis dengan biji yang lebih kecil dari durian umumnya.

Tahukah anda, bahwa Indonesia memiliki banyak jenis varietas durian? Salah satunya adalah Durian Bido, durian asli dari daerah Kabupaten Jombang. Durian ini merupakan salah satu varietas unggulan Indonesia sesuai dengan surat keputusan Menteri Pertanian (Mentan) Nomor: 340/kpts/SR.120/5/2006.

Durian Bido mempunyai keunggulan daging buah yang cukup tebal dengan rasa manis pulen dan sedikit pahit jika matang. Varietas ini memiliki waktu panen tiga kali dalam satu tahun, serta mampu menghasilkan 80-190 buah/pohon/tahun.

Sayangnya Pohon Induk Tunggal (PIT) durian bido, telah ditebang dan belum dikembangkan. Karena itulah dilakukan penelitian oleh Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) terhadap beberapa pohon yang diseleksi dengan metode isozim dan morfologi.

Hasil yang didapat, dari 27 jenis durian yang dianggap mirip, kemudian 21 jenis diantaranya dianalisis (6 sisanya tidak bisa dianalisis, karena pohonnya meranggas) terdapat 1 jenis durian yang memiliki kemiripan sebesar 66% dengan PIT dari segi isozim peroksidase. Sedangkan pada segi isozim esterase terdapat 3 jenis durian yang memiliki kemiripan sebesar 92% dengan PIT.

Statistik Durian

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi durian di Kabupaten Jombang mencapai 240.903 kwintal pada tahun 2018. Jumlah ini mengalami kenaikan dari 2017 dan 2016 yang hanya mencapai 176.975 dan 126.340 kwintal per tahunnya.

Meskipun Jombang mempunyai varietas unggulan, namun faktanya Jombang bukanlah daerah penghasil durian tertinggi di Jawa Timur. Kabupaten Jombang, hanya menduduki peringkat ketiga setelah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang.

Pada tahun 2018, produksi durian Jawa Timur mencapai 2.764.256 kwintal. Jika dipersentasekan, Kabupaten Jombang hanya menyumbang 8,71% produksi durian Jawa Timur. Sementara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang sebesar 38,68% dan 19,60%.

Jika ditelaah lebih lanjut, produksi durian di Kabupaten Jombang hanya didominasi oleh Kecamatan Wonosalam, yang mencapai 213.999 kwintal atau setara dengan 88,83% produksi di tahun 2018.

Mengapa demikian? Menurut surat keputusan Mentan diatas, pohon durian ini mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan daerah yang memiliki ketinggain 300 – 950 m dpl. Hal ini sangat cocok dengan kondisi geografis Wonosalam yang berada di ketinggian mencapai 1000 m di kawasan lereng Gunung Anjasmoro. Sementara, wilayah Kabupaten Jombang lainnya, sebagian besar memiliki ketinggian dibawah 100 meter.

Meskipun hanya berpusat di Wonosalam, luas panen durian mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2016, luas panen durian mencapai 158.019 pohon, kemudian 2017 meningkat 36,58% menjadi 215.823 pohon , dan 2018 kembali meningkat 28,98% menjadi 278.369 pohon.

Sayangnya, jika dilihat dari tingkat produktivtasnya, ternyata jumlah tersebut belum cukup memengaruhi kenaikan secara signifikan. Pada 2016, tingkat produktivitasnya mencapai 79,95 kg/pohon, kemudian 2017 naik 2,56% menjadi 82,00 kg/pohon. Lalu, tahun 2018 kembali naik 5,54% menjadi 86,54 kg/pohon.

Meski juga mengalami kenaikan, angka ini masih jauh dari angka produktivitas durian Jawa Timur yang mencapai 162,16 kg/pohon di tahun 2017.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Selama ini, pohon durian bido telah dikembangkan dan dilestarikan oleh masyarakat. Namun, kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan situasi alam tanpa adanya usaha untuk meningkatkan produktivitas.

Menurut petani durian, karena kematangan secara alami itulah yang membedakan cita rasa durian bido dengan jenis yang lain. Untuk mendapatkan rasa yang pas, petani durian bido akan mengikat badan durian pada ranting terdekat. Hal ini bertujuan jika sewaktu durian jatuh, durian akan tetap menggelantung di pohon dan terhindar dari kulit yang pecah sehingga daging buah durian tetap aman.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang sudah melakukan upaya peningkatan dengan menerbitkan SK Camat nomor : 188/1/415.73/2011 tentang pengembangan dan pelestarian pohon durian bido. Dalam salah satu keputusannya, pembibitan yang ada di Wonosalam, harus berasal dari daerah Wonosalam sendiri. Kemudian Petugas Penyuluh Pertanian akan membina petani/kelompok tani dalam pengadaan pembibitan durian bido yang dilakukan dengan metode pembibitan vegetatif (grafting).

Dan untuk meningkatkan pemberdayaan dan inovasi dalam pertanian, pada Juni 2019, dibentuklah Asosiasi Petani Durian Indonesia (ADUPRI) yang digagas oleh petani durian Wonosalam. Dengan adanya asosiasi ini, diharapkan membangun jaringan antar petani durian sehingga mewujudkan swasembada durian dimasa mendatang.

Kenduri Durian

Meskipun produksi durian Jombang belum mampu sebanyak produksi Kabupaten Pasuruan dan Malang, masyarakat Jombang tidak lupa mengungkapan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Kecamatan Wonosalam menggelar acara selametan yang biasa disebut dengan “Festival Kenduri Durian” yang rutin dilaksanakan tiap tahun sejak 2012. Acara ini dilakukan pada saat musim durian panen secara besar-besaran antara bulan Februari dan Maret, setiap tahunnya.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat Wonosalam menyusun durian-durian berjumlah tahun saat pelaksanaan, menjadi sebuah gunungan raksasa yang memiliki ketinggian sekitar 7-9 meter. Gunungan ini ditampilkan di lapangan Wonosalam. Selain itu, sejumlah gunungan kecil juga dibuat dari setiap desa se-Kecamatan Wonosalam, dan diarak menuju lapangan.

Setelah gunungan dari tiap desa itu berkumpul. Durian yang ditata di gunungan raksasa maupun pada gunungan kecil, kemudian dibagikan secara gratis kepada pengunjung yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur.

Meskipun berpeluang untuk tidak mendapatkan durian. Para pengunjung masih dapat mencicipi durian bido dan olahan durian berupa kolak ketan durian yang dijual masyarakat setempat.

[wbcr_php_snippet id="kabarjombang"]