Usaha Kuliner di Tengah Pandemi

Dua Warung Ayam Panggang Legendaris di Banjardowo Jombang, Tak Sepi Pelanggan

kuliner ayam panggang
Proses pemasakan ayam panggang di salah satu pemilik warung di Banjardowo Jombang. (Foto: Diana Kusuma Negara)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Tidak banyak usaha kuliner bisa bertahan di tengah pandemi covid-19. Dari yang sedikit yang masih bertahan itu, dua di antaranya adalah kuliner ayam kampung panggang legendaris yang berada di Desa Banjardowo Kecamatan Kabupaten Jombang. Pelanggan fanatiknya tak meninggalkan meski wabah masih mengkhawatirkan.

Ya, warung ayam panggang Hj. Paemah dan warung Bu Warti yang bersebelahan ini mampu bertahan meskipun dalam masa pandemi virus Corona.

Baca Juga

Dua olahan ayam panggang dua perempuan itu masih menjadi favorit pelanggannya sejak tahun 1980-an. Usaha kuliner yang saat ini dilanjutkan oleh anak-anaknya itu masih eksis di tengah wabah covid-19 yang hampir melumpuhkan perekonomian masyarakat.

Khusnul (34) dari pengelola ayam panggang Hj. Paemah, mengatakan, dia bersyukur dengan penghasilannya meski diterpa oleh wabah covid-19.

“Memang ada penurun karena corona, tapi alhamdulillah masih ada aja rejeki orang yang beli meskipun kebanyakan memang dibawa pulang. Alhamdulillah ini mulai bangkit lagi, mulai banyak yang beli lagi,” tuturnya pada KabarJombang.com, Minggu (20/9/2020).

Sementara Markani (59) mengaku mengalami penurunan penjulan ayam panggang yang dirintis orang tuanya itu.

“Corona juga turun penjualan, tapi juga masih ada saja yang cari makan di sini, langganan-langganan masih ada. Tapi memang kebanyakan dibawa pulang,” ungkapnya

Menurut Markani, penurunan jelas terjadi disat memasuki hari raya idul fitri yang biasanya banyak dipesan ayam ingkung. “Biasanya pas hari raya idul fitri pesanan ayam panggang ingkung itu bisa sampai 150 ekor, tapi tahun ini karena corona hanya sampai 70 sampai 80 ekor,” tambahnya.

Meski bersebelahan, dua usaha kuliner itu mematok harga yang berbeda. Meskin demikian, keduanya mempunyai pelanggan fanatik yang juga berbeda. Rasa tergantung selera, kata banyak orang.

Seporsi nasi, urap-urap, dan sepotong ayam panggang di warung Ru Warti dibandrol dengan harga Rp. 20 ribu, sementara di warung Hj. Paemah dipatok Rp. 22.500. Selisih tipis harga keduanya dinilai wajar karena ukuran ayamnya beda.

Mengenai rasa yang menonjol di antara keduanya, menurut pelanggan yang pernah mencicipi kedua olahan pengusah kuliner itu, ada pembeda yakni di rasa manis pedas dan asin manisnya.

“Ini menurut beberapa yang pernah merasakan ayam panggang keduanya, kalau Hj. Paemah rasanya lebih ke asin manis. Kalau Bu Warti lebih ke asin pedas. Lezat yang mana, tergantung selera masing-masing mau yang rasa bagaimana,” ujar Erni (35) warga setempat.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait