by

Cintaku, Seranjang Bertiga ??

Oleh: Aan Ari Hidayat

Kami satu keluarga yang tinggal di tengah perkotaan tua di Jawa Tengah, orang lebih sering menyebutnya Semarang. dimana kota tersebut sebagai tonggak utama perekonomian di Jawa Tengah. Meski dalam segi ekonomi kami tergolong keluarga yang menengah kebawah. Namun kami tetap menikmati kehidupan yang diberikan Tuhan, dengan segala kekuranganya. Cinta kami bertiga, menjadi penyemangat dalam kekurangan yang hampir kita rasakan setiap harinya.

Namun, diriku begitu menikmati kehidupan itu, saat memilik wanita-wanita yang kucintai. Dia adalah Shela, perempuan pertama kesayanganku, yang setia hidup bersamaku meski dalam keterbatasan ekonomi. Dan si bungsu Lusi, perempuan keduaku yang manja dan ngalem.

Pribadinya yang kalem namun manja, membuat rasa sayangku semakin tak terukur. Tapi tetap bisa membantu untuk menstabilkan keadaan ekonomi kami bertiga. Sebab dia juga bekerja sebagai pelayan restoran makanan padang yang tempatnya tak jauh dari rumah. Sebab, aku tak tega jika harus melihatnya jauh dari pantauanku. Aku yang bekerja sebagai tenaga teknisi di suatu pabrik yang memproduksi bahan dasar plastik, dengan gaji yang hanya cukup untuk hidup dua orang saja, tetap bisa menghidupi kami bertiga meski dengan segala kekuranganya. Meski setiap hari aku hembusan nafas besar tanda keluh kesahku akan kehidupan yang kujalani.

Namun beban hidup yang kualami terasa semakin berat pada saat diriku harus menghidupi dua orang wanita yang dipilihkan Tuhan untuk menemaniku dalam kehidupanku yang pas-pasan. Namun mereka berdua sama-sama kusayangi di dunia ini. Aku yang sendiri pasca ditinggal kedua orangtuaku, memilih mereka berdua sebagai pasangan hidupku. Hingga pada suatu saat, muncul konflik-konflik rumah tanggaku yang tak sehat ini. Seperti yang terjadi disaat malam Jumat, dimana orang pada umumnya sedang melakukan kebahagian hasrat cinta yang sering dikatakana dalam agama sebagai sunah rosul, disitu kulihat jarum dinding di rumahku menunjukan pukul 09.00 malam.

Dimana diriku merenungi cerita cintaku yang harus kubagi pada dua wanita tercintaku, di sebuah teras rumahku yang sempit dan berdinding batu separuh bambu.
…ngik..ngik..ngikk..”. Suara ayunan kursi yang kugunakan untuk merenungi cerita cintaku pada dua wanitaku. Ditambah lagi semilir angin malam dan sambaran petir yang mengisyaratkan akan tanda hujan turun, menambah dinginya kehidupanku.

Tak lama kemudian, disela-sela renunganku, suara muncul dari dalam rumahku yang hanya memiliki satu kamar tidur yang berlantaikan semen berwarna hitam dan berdinding bambu separuh tembok.
“Mas……..!!!,” teriak si wanita bungsuku Lusi, memanggilku dengan nada mesra.
“Ya dik… ono opo!!,” jawaabku sembari kuputar kepalaku kearah dalam gubuk kecilku.
“Sampean mlebu omah, ikikan kate udan, engkok sampean ketampu (terkena hujan) udan,” teriak wanita yang masih kental berlogat Jawa Tengah bercampur Jawa Timuran dari dalam rumah.
“Iya dik, mariki mas mlebu omah,” Sautku cepat.
…..klotak… klotak.. klotak…”. suara alas kaki yang kupakai terbuat dari kayu, mengiringi langkahku manuju kamar dimana suara si manjaku memanggil diriku.
”Lho mbak Shela nangdi dik kok gak ada di kamar..???,” tanyaku pada si manja yang sudah terbaring di kamar menunggu kedatanganku untuk membelainya.
“Mbak isih nang pawon mas, mungkin isih gae jamu kanggo stamina mas sebelum tidur nanti,” jawab si manja sembari berdiri menuju belakang lemari kamar untuk mengganti baju yang biasa digunakannya tidur.

Aku yang sudah merasa lelah karena seharian bekerja di pabrik juga ikut meletakkan badanku yang hitam dan kurus di ranjang tempat kami bertiga berbagi kasih sayang.
…..krek….!!!!!!“. Bunyi ranjang kamar kami bertiga, yang seakan lelah menahan beban kami selama 24 tahun, saat si manja mengikuti tidur di sampingku.
” Mas capek ya seharian kerja demi kita..????,” tanya si manja padaku.
“Iya dik badan mas seakan lemas..!!,” keluhku padanya.
“Sini aku pijitin mas..!!,” tawaran mesra dari wanita kedua yang kusayangi, sembari meremas tubuhku dengan mesra dan penuh dengan kasih sayang.
” Enak nggak mas???,” celetuk si bungsu sambil melihat kearah wajahku dengan senyumanya manis.
” Iya dik enak kok..!!!,” jawabku dengan membalas senyuman manis yang dberikan si manja padaku.
” Apa adik juga ga capek ta, kan tadi kerjanya lembur????,” tanyaku pada si manja dengan kubelai rambutnya, dan bergumam dalam hatiku. ”Maafkan kepala rumah tanggamu ya dik, mas belum bisa memberikan kelayakan hidup pada dirimu”.

Tak lama kemudian, diriku terkaget dengan lamunanku itu. Suara keras datang dari luar kamar.
….klotak… klotak… klotak..“. Ternyata suara langkah kaki wanita pertamaku Shela saat masuk ke dalam kamar kami bertiga, sembari mengangkat benda seperti gelas dalam genggaman tanganya.
“Ini mas aku buatkan jamu agar stamina mas pulih, agar bisa buat tidur nanti…,” ucapnya sambil meletakan secangkir jamu di meja kamar yang terrbuat dari kayu tua berwarna kecoklatan.

Diriku dan si manja wanita keduaku, yang sudah berada di ranjang mengajak wanita pertamaku untuk tidur bersama.
“Mbak ayo tidur bareng disini,” minta si bungsu kepada wanita yang lebih tua darinya yang juga wanita pertamaku.
”Iya dik.. mbak tak ganti baju disek,” jawab Shela sembari berjalan menuju belakang lemari untuk mengganti bajunya. Rumah kami yang kecil, memaksa kami untuk selalu berfikir lebih untuk memanfaatkan segalanya sebagai pengganti benda yang tidak kami miliki.

…..kreeeeeeeekkkkkk……“. lagi-lagi suara ranjang kami saat wanita pertamaku Shela, naik di ranjang dimana kita bertiga tidur bersama. Meski begitu, ranjang warisan orang tuaku itu, masih kuat untuk menahan beban polah tingkah kami bertiga saat di atas ranjang.

Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 12 malam, namun pijatan demi pijatan kedua wanitaku membuat malam itu semakin indah untuk dinikmati dengan penuh kasih sayang. Desusan suara, kecil mendera di telingaku seakan menambahkan gairah kami bertiga mencurahkan kasih sayang. Ditambah hujan yang mendera membuat bertambahnya situasi malam yang penuh romantis.

Beberapa menit terlalui dengan penuh kemesraan dan gaya jurahan, tenaga sudah habis terkuras saat meluapkan kasih sayang kami bertiga diatas ranjang. Tiba-tiba ada suara yang datang dari telinga samping kiriku.
”Mas apakah mas masih sayang denganku???,” tanya wanita pertamaku Shela saat kami selesai mencurahkan kasih sayang di ranjang.
”Sampai kapanpun mas akan sayang sama kamu dik!!!,” jawabku sambil mengusap rambutnya yang panjang.
”Makasih ya mas atas cinta dan kasih sayangmu pada kami berdua..,” saut si manja menegaskan pertanyaan wanita yang lebih tua darinya.
“Kita berdua akan selalu sayang pada mas sampai kapan pun, meski kita berdua hidup dalam kemiskinan mas…,” ucap Shela sembari melemparkan selimut sarung pada tubuh kami bertiga, yang juga menandakan bahwa waktu untuk memejamkan mata kami, yang juga menaikkan kemesraan kami bercumbu dengan kasih sayang.

Meski ada 2 wanita di dalam ranjangku, namun mereka berdua hampir tak pernah bertengkar dengan alasan appun. Mereka tetap setia bersamaku hingga saat ini.

Namun, tingkah kami bertiga diatas ranjang terhenti saat si wanita pertamaku melontarkan kata-kata padaku.
” Mas aku mau ngomong..,” mintanya sembari bangun dari tidurnya.
“Ngomong apa to dik..?????,” jawabku yang juga ikut bangun dari tidur.
“Aku mau pamit nikah mas. Laki-laki yang mencintaiku ingin memintaku pada mas..,” cerita wanita pertamaku.

Medengar hal itu hatiku sedih. Ternyata wanita yang kucintai itu, juga dicintai laki-laki lain.
“Apa kamu sudah siap dik ??. Selama ini adik belum cerita kalau sudah ada laki-laki yang menaruh cinta padamu,”jawabku dengan memegang kedua tangannya dan menyembunyikan kesedihanku.
“Iya mas, dia sudah serius sama aku, dan ingin meminangku mas, sebagai istrinya”.

Belum habis kesedihanku, muncul lagi suara dari samping kananku yang sebelahnya adalah si manja yang erat memelukku dari samping.
“Aku juga mau pamit nikah mas..,” katanya sambil melihat kearah wajahku.
“Ayo kita duduk bareng disini. kita ngomong sama-sama dik…,” pintaku sembari kurangkul kedua wanitaku diatas ranjang.
“Apakah bener kalian berdua ingin menikah????.
“Iya mas aku ingin menikah…,” suara kompak yang terucap dari kedua mulut wanitaku secara bersamaan.
“Tapi apakah mas mengijinkan kami untuk menikah????,” tanya si Shela padaku.
Hatiku yang perih bercampur bahagia meneteskan air mata.
…Sruuuuuttttt….!!!!“. Suara dari dalam hidungku yang serasa ikut dalam kesedihanku.
“Iya dik.. Mas menginjinkan kalian menikah!!!,” jawabku.
“Maafkan kami ya mas… selama puluhan tahun mas merawatku, namun mas aku tinggal nikah..!!.
Aku yang mendengar hal tersebut semakin terseguk-seguk, air mataku tak bisa kubendung lagi. Dalam hatiku berkata mungkin ini sudah waktu dari Tuhan untuk memisahkan kami dalam satu ranjang tua warisan orang tua.
…srut…srut..” Suara tangisanku tak bisa kutahan lagi.
“Mas jangan nangis, nanti kita juga ikut nangis masss…!!!,” pinta si manja sambil mengusap airmataku yang mulai jatuh membasahi ranjang tempat kami cerita.
“Ndak dik.. Mas nangis karena sedih bercampur bahagia,” ucapku sambil memeluk erat mereka berdua.
“Kalau memang kalian berdua sudah ada laki-laki lain yang mencintai selain aku. Menikahlah dik… Mas akan merestuinya,” pesanku kepada kedua wanitaku.
“Ya sudah, sekarang sudah malam ayo kita tidur..!!! ,” ajakku yang tak ingin kesedihan menyelimuti tidur malam ini.

Tak terasa, rasa silau, yang berasal dari cahaya matahari yang menorobos genting rumah yang bolong karena tak terawat, mengganggu tidur kami yang pulas akibat bertarung dengan emosi saat malam kemarin.
“Dik.. dik.. ayo bangun sudah pagi waktunya kita bekerja lagi”. Sambil kugerakkan kedua badan wanita tercintaku.
…..ehhhhh….” Suara desusan keduanya saat bangun dari tidurnya.

Tak lama kemudian kami bergegas ke arah kamar mandi belakang, sambil mempersiapkan segala keperluan yang kita butuhkan di pagi hari. Suara gaduh benturan antara logam, sudah menunggu di meja makan dimana kami bertiga biasanya saling cerita dan juga mengisi perut yang akan kita gunakan bertempur di tempat kerja nanti.
“Mas.. ini makannya sudah siap, tapi laukya cuma tempe mas..”.
“Iya tak apa dik, apa adanya saja,” jawabku menyauti tawaran si manja padaku.

Kita bertiga yang sudah duduk di meja makan segera menyantap hidangan yang disiapkan kedua wanita tercintaku.
“Mas.. gimana tentang ijinku tadi malam, apakah mas mengijinkan aku untuk menikah..??,” tanya wanita pertamaku sambil menuangkan nasi ke dalam piringku.
“Mas akan mengijinkan, asalkan kalian berdua bisa bahagia dik..,” jawabku sambil memandang mereka berdua dan seakan tak rela jika mereka diambil pria lain selain diriku.
“Kapan mas bisa bertemu calon laki-laki kalian berdua sebelum kalian menikah???,” tanyaku ingin memastikan bahwa adikku yang kurawat dari mereka masih ingusan mendapatkan laki-laki yang benar-benar baik untuk mereka.
“Ya mas.. nanti dia akan kuajak kesini, bertemu dengan sampean mas..,” jawab si Shela, adik pertamaku yang ditinggal orangtua kami sejak umur 4 tahun.
“Mas terima kasih ya atas kasih sayang mas selama kami masih kecil hingga sekarang kami dewasa,” ucap Shela, adik pertamaku yang meneteskan air matanya di meja makan.

Tangis keharuan menyelimuti meja makan kami, dan seakan kiamat kecil akan terjadi sebab kedua adikku akan ikut calon suaminya masing.
“Mas tapi kami tak tega meninggalkan mas sendiri saat kami ikut suami kami masing-masing mas..!!!,” ucap si manja sambil menangis seakan takut akan kehidupanku yang sendiri tanpa meraka.
“Mas tidak apa-apa dik, mas tetap akan menyenyangi kalian berdua, dan itupun akan mas lakukan sampai kapanpun. Jangan pikirkan mas dik, mas ga papa,” ucapku memastikan agar mereka tetap bisa melajutkan kebahagian mereka berdua. Meski, sementara diriku yang sudah berusia lebih tua dari mereka masih harus sendiri. Sebab selama ini diriku hanya memikirkan mereka berdua, dan tak memikirkan kehidupan diriku apalagi urusan cintaku.

Beberapa bulan berlalu, tak terasa pernikahan kedua adikku sudah dekat. Tinggal sehari saja. Mereka yang sibuk mempersiapkan perniakahannya, sampai tak mengurusi rumah tua kami. Sebab persepsi pernikahan mereka akan dilakukan di rumah mertuanya masing-masing, karena rumah kami yang reot tak dimungkinkan untuk dibuat acara sebahagia pernikahan.

Akhirnya hari pernikahan mereka berdua berlangsung bersaman.
…….prak…prak…prak…!“. Suara rebana mengiringi jalannya pernikahan mereka berdua yang dibunyikan, membuat hatiku gemetar.
Ya nabi salam alaika… ya rasul salam alaika…”. Suara solawat pengiring pengantin yang akan memasuki pelaminan membuatku tak sanggup menahan tetesan air mata.
“Mas restui aku dalam pernikahanku ya mas..,” minta kedua adik yang bersujud di depanku sambil memegang kedua kaki.
“Ya dik.. mas merestui kalian, semoga kalian bahagia ya..”. Tak kuasa air mataku sudah membasahi seluruh wajahku. Bahkan seluruh tamu undangan ikut menangisi drama kehidupan kami bertiga yang hanya hidup sebatang bertiga.
“Sudah mas, ikhlaskan mereka untuk bahagia”. Pesan perias wajah yang seakan paham akan kesedihan kami yang bercampur kebahagian.
“Iya mbak, aku ikhlas mereka bahagia”.

Acara persepsi pernikahan seakan banjir air mata, melihat kebahagian keluarga kecilku dalam perpisahan. Membuat rasa tubuhku sudah tak kuat lagi duduk menyaksikan mereka berempat duduk di pelaminan.
“Ibu saya tak pulang dulu ya,” pamitku kepada salah satu mertua adiku.
“Lo mas kok buru-buru, acaranya kan belum selesai???.
“Ya tapi badan saya agak kecapean bu.. jadi saya istrahat dulu di rumah. Saya pamit dulu ya buk,” sapaanku sambil meninggalkan mereka yang masih sibuk menyalami para tamu undangan yang datang.

Satu jam kulalui menuju rumahku yang tua untuk beristirahat, sebab rasa bahagia dan sedihku cukup menguras tenaga dan pikiranku.
Kreeeekkkkkkk…….“. Suara pintu rumah tuaku yang kubuka. Rasa sedihku semakin bertambah melihat kondisi rumah yang ditinggal dua penghuninya.
“Ya Allah… bahagiakan kedua adiku yang sudah dimiliki laki-laki yang dicintainya”. Doaku dalam hati yang sudah kubaringkan di ranjang tempat kami bertiga saat tidur.

Setelah lama waktu berlalu, akhirnya dirku memutuskan untuk meninggalkan rumah kami bertiga untuk meneruskan hidupku yang masih sendiri.
Adik semoga kalian bahagia, jika kalian membaca surat ini, mungkin mas sudah berada di Kalimantan. Mas tulis surat ini agar kalian tidak menghawatirkan mas saat mas ingin merubah nasib mas di kampung yang baru. Jika kalian berkunjung ke rumah kita, rawatlah rumah peninggalan orang tua kita ya dua wanita tersayangku“.
Secuil isi surat yang kuselipkan di ranjang kami bertiga yang menjadi saksi drama 3 yatim piatu yang hidup bersama. Sambil diriku berkemas pakaian dan akan meninggalkan mereka berdua dalam bahagia. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *