Budidaya Sayur Hidroponik, Solusi Bagi Pemilik Lahan Sempit

Budidaya sayuran hidroponik di Desa Kwaron, Diwek, Kabupaten Jombang.(Ft: Daniel).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Bagi anda yang ingin menanam sayur namun tidak punya lahan luas, kini tak perlu khawatir lagi. Karena budidaya sayuran hidroponik smakin eksis, dan ini jadi solusinya.

Budidaya sayuran hidroponik tidak perlu menggunakan media tanam tanah seperti di persawahan yang kita lihat pada umumnya. Cukup menggunakan rak dan paralon sudah bisa dijadikan tempat.

Baca Juga

Namun kian hari, penanam sayuran hidroponik memiliki inovasi baru terkait dengan peralatan dalam budidaya sayuran.

Seperti yang dilakukan Istiqomah (38) dan Adi Subiantoro (40) asal Kwaron, Kecamatan Diwek , Kabupaten Jombang. Kedua orang ini menggunakan meja atau rak dengan besi. Untuk tempat sayurnya ia menggunakan talang air dan asbes yang di bentuk sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan media tanam.

Bermula dari ketidaksengajaan dan kemudian ditekuni. Kini budidaya sayur milik Adi sebagai bisnis dan pekerjaaanya. Mereka sudah menekuni budidaya sayur sejak tahun 2015.

Dalam budidaya sayur hidroponik ini, Istiqomah mengatakan, dibutuhkannya ketlatenan. Demikian ini karena prosesnya tidak sama dengan media tanah.

“Hidroponik menanam menggunakan air, pakai rockwool sebagai media pengganti tanah. Ada juga spons tapi kalau spons nya kering tanamannya mati, yang bener ya rockwool karena menyerap air,” tuturnya ditemui kabarjombang.com Sabtu (8/8/2020)

Mereka menyebut saat ini media rockwool sulit ditemui, sehingga saat ini menggunakan spons. Dalam perawatannya, air dalam proses hidroponik ini tidak boleh berhenti.

“Airnya harus terus mengalir, ini menggunakan sanyo dengan alat seperti aquarium supaya berputar airnya” beber Istiqomah.

Sayuran yang mereka budidayakan antara lain selada, sawi pakcoy, sawi samhong, sawi caisin, kangkung , bayam merah dan bayam hijau.

Sementara Omzet penjualannya menurut mereka lumayan, dan hasilnya setara dengan proses budidayanya. Saat ini mereka sudah memiliki banyak pelanggan. Sehingga tak perlu khawatir dalam proses menjualnya.

“Banyak yang cari sayuran sepert ini. Biasanya orang perumahan-perumahan banyak yang mau. Kebanyakan sih warga keturunan China yang beli,” ungkapnya.

Kelebihan dari sayuran hidroponik ialah tidak memakai pestisida seperti media tanah yang biasanya “disemprot”. Dikatakan, hidroponik itu airnya di beri nutrisi. Seumpama ada ulat maka langsung di ambil ulatnya, tanpa di semprot.

Sehingga menghasilkan sayur yang menyehatkan. Maka tak perlu kaget jika harganya selisih dengan harga sayur di pasaran. Harga sawi Rp 5 ribu dengan berat 250 kilogram. Sedangkan selada Rp 30 ribu satu kilogramnya.

Musim panen merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Sayuran hidroponik berbeda dalam panennya. Untuk tanaman sawi membutuhkan waktu 28 hari. Kangkung 14 hari. Sedangkan selada selama 30-35 hari.

“Sebagai inovasi, saya juga menjual mie ayam dengan bahan sawi hijau hidroponik ini,” tuturnya.

Supaya budidaya nya  tidak telat, mereka juga membeberkan teknik persemaian dan tanam, supaya setelah panen ada pengganti bibit baru.

“Maka dari itu, usaha yang ada di halaman belakang sekitar 10X10 meter ini, kami jadikan pekerjaan setiap harinya,”pungkasnya.

 

 

INSTAGRAM

Berita Terkait