Bertahan Ditengah Pandemi, Jajakan Pentol Sambil Berdayakan Literasi

Pentol Nusantara menjadi bagian kecil pejuang literasi yang muncul akibat pandemi. Foto : Beny H
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Seretnya roda perekonomian ditengah pandemi, tidak menjadikan seorang pedagang pentol keliling menyerah pada keadaan. Dipaksanya warga untuk berdiam diri dirumah guna terhindar sari wabah, menjadi peluang tersendiri bagi warga Desa Ngudirejo Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Disela-sela dia mengais rejeki, pria inipun mampu menjadi bagian kecil para pejuang literasi.

Lutfan Efendi, pria berusia 29 tahun itu berhasil membuka mata sebagian orang. Dengan membawa buku sembari berkeliling memasarkan dagangannya. Lutfan sendiri secara sadar menyebut tujuannya membawa buku saat menjajakan dagangannya bukan murni strategi pemasaran. Akan tetapi murni panggilan hati untuk membangkitkan minat baca.

Baca Juga

“Saya hanya merasa terpanggil atas keprihatinan fenomena gadget yang kian menjadi candu para pelajar saat ini. Ditambah saat wabah masih melanda, banyak waktu luang dirumah hingga membuat para pelajar menghabiskan hari-harinya untuk bermain gadget,” terang Lutfan, jumat (17/7/2020). Berangkat dari keprihatinan inilah, bapak satu anak ini kemudian mendesain ulang rombong jualannya.

Dengan tetap menggunakan motor sebagai penggerak utamanya, gerobak pentol keliling itu disulapnya menjadi perpustakaan berjalan.

Sebelah kiri berisi wadah pentol berikut aneka bumbu penambah rasa. Disisi kanan, nampak puluhan buku yang ditata rapi dalam kardus terbuka. Kalau buku yang saya bawa biasanya buku anak-anak, buku fiksi, komik, dongeng. Anak-anak juga suka sama buku yang bergambar,” ceritanya.

Setiap hati, ia mulai berkeliling , ke beberapa desa disekitar tempat tinggalnya. Ia mulai menjajakan dagangannya pada pukul 16.00 WIB dan baru beranjak pulang ketika waktu sudah menunjukkan angka 21.00 WIB. “Pelanggan kebanyakan anak-anak di Desa Ngudirejo yang menyebar di 4 Dusun. Saya biasanya mangkal di 18 titik. Setiap titik biasanya saya berhenti antara 10 sampai 15 menit agar anak-anak menyelesaikan bacaannya,” tambah dia.

Lutfan pun tak segan mengizinkan bukunya dipinjam untuk dibaca dirumah tanpa biaya. “Untuk buku mau dibaca ditempat atau dibawa pulang, tidak ada yang bayar semua gratis. Paling saya meminta agar mereka mengembalikan jika sudah selesai bacanya. Kadang ada juga yang gak balik ya saya ikhlaskan, terpenting mereka menjadi suka buku ketimbang gila gadget,” urai Lutfan.

Untuk penghasilan dari jualan pentolnya, Lutfan mengaku tak terlalu memikirkan. Ia lebih percaya Tuhan memberikan yang sudah menjadi rejekinya. “Rata-rata Rp 100 ribu setiap kali jualan, sekali lagi tujuan saya agar anak-anak gemar membaca, kalau rejeki itu sudah ada takarannya sendiri,” ucapnya terkekeh. Kendati baru satu bulan menjajakan dagangan yang dilengkapi dengan perpustakaan berjalan, usahanya ini mampu menjadikan dia viral di media sosial.

Buku-buku yang ia bawa diakui merupakan koleksi pribadinya. Beberapa diantaranya merupakan pinjaman dari salah satu rumah baca di pusat kota Jombang. Ia pun mengaku nama rombong pentol miliknya dengan nama ‘Pentol Nusantara’ terinspirasi dari Muktamar NU yang digelar di Jombang beberapa tahun lalu. “Selain itu, rombong ini dululnya dapat bantuan dari Lazisnu NU,” pungkasnya.

INSTAGRAM

Berita Terkait