Berkelit di Masa Sulit, Pengusaha Percetakan Ubah Koran Bekas Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi

Ahmad Zainudin memperlihatkan hasil karyanya berupa kerajinan asbak berbentuk naga berbahan koran bekas.
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com-Di tangan Ahmad Zainudin (31), Warga Dusun, Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, kertas koran bekas mampu disulapnya menjadi barang bernilai lumayan tinggi.

Tak hanya cantik, barang kerajinan yang dihasilkannya pun mulai mendatangkan rupiah. Minimal itu bisa membantu memertahankan asap dapur istrinya tetap mengepul, di tengah krisis pandemi Covid-19.

Baca Juga

Ya, Ahmad Zainudin memang belum lama menekuni dunia atau bisnis kerajinan koran bekas.

Dia mulai merintis jadi perajin setelah usaha percetakannya tak lagi lancar dan tidak lagi bisa diandalkan akibat pandemi Covid-19 merebak.

“Saya punya usaha percetakan dan sudah berjalan 2 tahun. Sebelum adanya corona, banyak orderan masuk seperti pesanan undangan nikah, sablon kaos, dan lain-lain,” tutur Ahmad Zainudin, di kediamannya, Minggu (28/6/2020) malam.

Namun sejak Covid-19 merebak, orderan percetakan menjadi sepi, penghasilan menurun drasti.

Ahmad Zainudin pun putar otak dan kemudian memilih banting setir memproduksi kerajinan berbahan baku koran bekas.

Kerajinan yang dihasilkan di antaranya berupa asbak, pigura, tempat pensil, dan kotak tabungan (celengan), replika berbagai tumbuhan dan sebagainya.

Ahmad Zainudin mengaku mulai membuat kerajinan Mei lalu. Awalnya iseng-iseng bikin pigura dan miniatur bonsai dari bahan koran bekas.

“Lalu ada teman saya yang suka dan mereka pesan minta dibikinkan untuk anaknya, untuk keluarganya, kadang-kadang minta dibikinkan untuk aksesoris di kantornya. Selain itu saya juga bikin asbak, tempat pensil, dan boneka,” tutur Ahmad Zainudin

Ahmad Zainudin mengaku, sudah ada 20-an hasil karyanya yang terjual. Harganya per item variatif, tergantung tingkat kerumitan dan lamanya waktu pembuatan.

“biasanya saya jual antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, itu juga tergantung,” imbuhnya.

Untuk membuat aneka kerajinan dari kertas koran bekas tersebut, Ahmad Zainudin mengaku menggunakan alat bantu cukup sederhana.

“Kalau alat yang saya gunakan untuk membuat kerajinan dari koran bekas ini memang sederhana, yakni pemotong kuku, gunting, lem, kayu dan cat,” imbuhnya.

Untuk tetap memenuhi selera pasar, kerajinan tangan yang diproduksinya dibuat beragam model dan warna sehingga menarik pembeli.

Meski tidak mempunyai karyawan, Ahmad Zainudin sudah mampu memproduksi beragam jenis kerajinan, dan bisa menyisihkan untuk stok.

Lamanya waktu pembuatan satu item kerajinan, paling lama 2 minggu. Biasanya, untuk kerajinan denghan tingkat kerumitan tinggi, memerlukan waktu penyelesaian lebih lama.

“Seperti asbak berbentuk naga ini, saya perlu 2 minggu. Sedangkan bahannya memerlukan satu kilogram koran bekas dan bekas bungkus rokok. Memang pembuatannya rumit karena koran bekas harus dipotong kecil-kecil dan dibentuk ulir kemudian disusun menurut model dan selera pemesan,” ungkap Ahmad.

Ayah dari satu anak ini mengaku, sejauh ini usahanya memang belum membuahkan hasil maksimal. Karena selain belum lama dirintis, juga perlu suntikan modal.

Yang pasti, menurutnya, secara ekonomi ia terbantu dengan adanya penjualan dari hasil kerajinan tangannya ini.

“Saya merasa sedikit terbantu, meskipun hasilnya memang belum seperti yang saya harapkan. Karena memang perlu tambahan modal untuk mengembangkan usaha ini. Yang penting sekarang ini usaha jalan dulu, disyukuri saja dulu,”

INSTAGRAM

Berita Terkait