Benarkah Pandemi Covid-19 Picu Depresi? Simak Ulasan Psikolog Jombang

ilustrasi depresi
Ilustrasi
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Tak bisa dipungkiri, efek pandemi Covid-19 selama 7 bulan berjalan ini cukup mempengaruhi mental masyarakat. Kondisi ini, memiliki potensi besar memicu masyarakat mengalami depresi.

Hal ini dikatakan psikolog Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Denok Wigati. Dijabarkannya, seseorang mengalami depresi karena dipicu adanya tekanan-tekanan dalam diri, seperti pekerjaan yang overload, terganggunya perekonomian keluarga, dan sebagainya.

Baca Juga

Menurutnya, ada tiga cakupan gangguan depresi, yakni gangguan perasaan, berfikir atau kognisi, dan gairah hidup. Tetapi hal tersebut bukan gangguan jiwa yang bersifat permanen, karena depresi bisa hilang jika tingkat stresornya sudah berakhir.

“Masa pandemi memang banyak masyarakat mengalami gangguan tekanan atau stres. Tapi itu hanya gangguan penyesuaian saja, tidak sampai gangguan jiwa yang mendalam,” ujar Denok, saat ditemui di kediamannya, Babatan gang satu, Jombang, Jumat (11/9/2020).

Disamping itu, kata Denok, ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19 ini, juga dapat memicu depresi seseorang, dan depresi itu sendiri lebih parah tingkatannya dibandingkan stres.

Seseorang akan mengalami gangguan depresi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut memaknai sesuatu. Dikatakannya, ada beberapa cara serta jenis untuk menghadapi depresi yang disebut koping.

“Jenis koping ada dua, yakni aktif dan koping pasif. Dengan cara mempadupadankan dua koping itulah, seseorang bisa menghadapi depresi,” paparnya.

Untuk jangka waktu penyembuhan dan hilangnya gangguan depresi, Denok mengatakn tidak bisa ditentukan. Karena hal ini tergantung pristiwa atau sebab seseorang tersebut mengalami depresi.

Sejauh ini, kata Denok, tingkat depresi di Jombang berdasarkan yang pernah ditanganinya, kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa yang mengalami masalah kehamilan di luar nikah.

Terakhir, Denok menegaskan, peran keluarga dan pendidikan, sangatlah penting. “Jika ada salah satu dari keluarga atau anaknya mengalami depresi diharapkan agar bisa saling memberi pengertian, saling mengalah, saling mengetahui keinginan, berkomunikasi dengan baik,” pungkasnya.

INSTAGRAM

[iscwp-slider username="kabarjombangdotcom" dots="false" limit="5" popup="true" popup_gallery="false" show_likes_count="false" instagram_link_text="Ikuti Instagram"]

Berita Terkait