Angka Kasus Covid-19 Jombang, Peringkat 9 di Jatim

Bupati Jombang, Mundjidah Wahab, saat audiensi dengan Paguyuban Seni Tradisional di Ruang Swagata Pendopo Jombang. (Foto: Istimewa).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com Jumlah kasus Covid-19 di Jombang masih terus meningkat dan masuk 9 besar yang tertinggi di Jawa Timur.

Berdasarkan data yang di release Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang per tanggal Rabu 23 September 2020 kemarin, terjadi peningkatan grafik positif Covid dari sebelumnya 149 menjadi 159.

Baca Juga

Walaupun begitu, di hari yang sama juga di release data dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang menyatakan Kabupaten Jombang bertengger di posisi ke-9 dengan angka kasus Covid-19 sebanyak 838.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Bupati Jombang Mundjidah Wahab, saat audiensi dengan perwakilan dari paguyuban seni tradisional di ruang Swagata Pendopo Jombang, Senin (21/9/2020) malam.

“Bahkan masuk 10 besar Jatim,”ujar Mundjidah kepada perwakilan paguyuban seni tradisional.

Dalam data kasus Covid-19, Jombang masuk dalam 9 besar angka Covid tertinggi di Jatim dan menempati 6 besar untuk angka kematian akibat Covid tertinggi di Jatim.

Sampai Rabu (23/9/2020) angka Covid-19 di Jombang sudah mencapai 838 kasus dengan angka kesembuhan 603 dan angka kematian 76 korang.

Oleh karena itu, untuk kegiatan kesenian di Jombang sendiri masih belum memperoleh lampu hijau dari Bupati Jombang.

“Karena jumlah angka kasus dan kematiannya masih tinggi, kita belum bisa memberikan izin keramaian untuk apapun, termasuk kesenian,” tegas Bupati Jombang

Ada beberapa penyebab mengapa angka kematian akibat virus Covid-19 di Kabupaten Jombang, tergolong tinggi.

Yang pertama adalah karena mayoritas penderita corona di Jombang berusia diatas 50 tahun. Serta punya penyakit penyerta seperti diabetes contohnya.

Kedua, karena aktif untuk memeriksakan diri sejak dini masih rendah. Sehingga ini menjadi catatan sendiri.

Ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk menekan angka covid-19 khususnya di Kabupaten Jombang.

Pertama dengan menemukan kasus seawal dan secepat mungkin. Sehingga otomatis kapasitas pemeriksaan harus diperbanyak lagi.

Kedua, dengan temuan kasus yang banyak secara sistematis angka kematian juga akan turun. Itupun jika sudah ditemukan sejak awal-awal pemeriksaan.

Ketiga, perbaikan dan peningkatan jumlah sarana prasarana dan sumber daya manusia yang melayani.

 

INSTAGRAM

Berita Terkait