Aku Polisi “Kampung”, Ingin Mencerdaskan Anak Bangsa

Aipda Ahmad Sjafi'i, Kanit Binmas Polsek Ngusikan Polres Jombang. (FOTO: AAN)

KABARJOMBANG.COM – Hampir setiap waktuku, kuhabiskan dengan bercengkrama pada masyarakat. Ini kulakukan, bukan semata untuk kepentingan tugas negara. Namun, hasrat seorang pria asal kampung yang tak lagi bisa dibendung demi perubahan masyarakat yang lebih cerdas.

Ya, begitulah aku dengan seragam coklatku, setiap hari bekerja sebagai abdi negara. Di setiap pagi, kupanasakan kendaraan tugasku untuk berjelajah di Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Bukan hanya sebagai pengayom masyarakat. Tapi sebagai tenaga pendidik di sekolah-sekolah yang memintaku untuk mengajar Bimbingan Konseling.

Hampir separuh waktuku, kuhabiskan dengan bertemu wargaku, dimana mereka membutuhkan petunjuk tentang hukum, dan pendidikan kedisiplinan. Terkadang sebagai kepala keluarga, aku sedikit lalai membagi waktu untuk ketiga anaku dan istriku, “Aku adalah Aipda Ahmad Sjafi’i, Kanit Binmas Polsek Ngusikan Polres Jombang”.

Begitulah cerita yang diterima dari salah satu polisi yang berdinas di Polres Jombang. Sjafi’i adalah salah satu anggota polisi yang aktif berkeliling Kecamatan Ngusikan, dengan kesibukannya sebagai Kanit Binmas, yang ditempatkan di lokasi wilayah utara Sungai Brantas. Selain menjadi Bhabinkamtibmas, ia juga memiliki kesibuakan lain sebagai guru cuma-cuma di beberapa sekolah yang ada di kecamatan tersebut.

Tak hanya di satu sekolah. Bahkan ia juga menjadi tenaga didik di 4 jejang sekolah sekaligus. Seperti, aktivitasnya di MTSN Bakalan Rayung Ngusikan Kabupaten Jombang. Setiap hari, ia harus berkeliling di setiap sekolah untuk mengajarkan beberapa ilmu yang dikuasainya. Tak jarang, ilmu berlalu lintas juga ia ajarkan kepada anak Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dan Taman Kanak-kanak (TK) atau RA yang berada di Kecamatan setempat.

Selesai mengajar, pria yang pernah berdinas sebagai anggota Brimob Polda Aceh ini, juga memberikan pelajaran ekstra kulikuler pramuka di SMPN Ngusikan. Kini, pria yang tinggal di Desa Menturus, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang ini, hampir 20 jam bisa bercengkrama dengan tokoh dan masyarakat sekitar.

Ia juga sering dipanggil warga sekitar dengan sebutan Pak Komet, panggilan akrab warga sekitar kepadanya. “Untuk hari Senin dan Kamis, menjadi pembina upacara dan bimbingan rohani di dua sekolah. Selasa sama Sabtu, masuk intrakuliker sebagai guru Bimbingan Konseling MTSN Bakalan Rayung. Untuk hari Rabu dan Jumat, mengajar di SMPN Ngusikan. Itupun masuk diatas jam 09.30 WIB, Masuk selepas istirahat,” ceritanya.

Namun tidak menutup kemungkinan, ada laporan mendadak menangani permasalahan khusus. Seperti tawuran antar pelajar sekolah. Nah, hari Sabtu pun, tidak menjadi hari libur baginya, sebab ia harus menjadi pembina ekstrakulikuler pramuka di SD dan SMP serta MAN Keboan.

Jangankan mengharapkan gaji, seperti layaknya seorang guru. Di tempat sekolah mengajar, ia hanya berharap siswa-siswi yang diajarkanya bisa menerima sepenggal ilmu yang dimilikinya. Bahkan tak jarang, ia harus merogoh gajinya demi membantu memberikan motivasi, seperti hadiah kepada siswa yang mampu berprestasi.

“Saya tidak mengharapkan gaji, sebab ini merupakan bagian kecil untuk bisa mendisiplinkan masyarakat dan juga pelajar dalam menjalani kodratnya sebagai masyarakat patuh hukum. Memang di salah satu sekolah saya diberikan uang bensin sebesar Rp 165 ribu, itupun saya masukan kas Saka Bhayangkara disana,” katanya.

Kadang, tak jarang juga ia harus menyisihkan sedikit gajinya untuk memberikan hadiah kepada siswa SD dan juga MI tempatnya mengajar. “Meski kadang pihak sekolah juga mengapresiasi jerih payah saya dengan diikutkan dalam rekreasi sekolah,” ujar polisi yang memiliki 3 orang anak ini.

Tak putus disitu saja, di lingkungan warga sekitar, ia juga banyak menjadi tempat solusi bagi warga yang mengalami permasalahan, baik hukum maupun masalah pribadi. Dalam seminggu, ia bisa 4 hingga 5 kali memberikan penyuluhan kepada warga tentang kesadaran hukum dan mengantasi konflik sosial.

“Untuk kegiatan warga banyak sekali. Bahkan, saya sering mengadakan sosialisasi, juga perkumpulan di desa terpencil di wilayah Kecamatan Ngusikan. Mulai dari sengketa warisan hingga permasalahan pribadi warga,” terangnya.

Sehingga tak heran, jika semangat tinggi sosialnya memberikan banyak penghargaan yang diberikan pimpinannya di Polres Jombang. Seperti penghargaan kenaikan jabatan menjadi Kanit Binmas, Babin kinerja terbaik, Babin Inovasi, serta Babin dengan penyandang babin teladan se-Polres Jombang.

“Terakhir saya mendapatkan penghargaan dengan Kanit kinerja terbaik dari bapak Kapolres Agung Marlianto,” paparnya.

Dalam jenjang karirnya menjadi seorang polisi, Sjafi’i masuk pendidikan kepolisian Tahun 2000. Dalam tugas pertama kalinya, ia ditugaskan di Sat Brimob Polda Papua. Pada tahun 2002, ia kembali ditugaskan di SPN Jayapura, dan pada tahun 2005 ia ditempatkan di Polres Sorong Selatan sebagai Kasubbag Kerma Satbinmas Polres.

Terakhir, ia pindah tugas di Polres Jombang pada tahun 2010 dengan ditempatkan di Polsek Ngusikan. “Ini semua saya lakukan bukan semata-mata karena materi. Tapi, karena keinginan kuat untuk merubah gaya hidup dan daya pikir masyarakat desa untuk lebih mengerti hukum dan pendidikan lebih baik,” ujar polisi kelahiran Surabaya, 15 September 1979 ini. (aan/kj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here