Air Sungai Tambakrejo Jombang Berubah Putih, Bisa Sebabkan Gangguan Saraf

Kondisi air sungai di sepanjang Jalan KH Wahab Hasbullah Desa Tambakrejo, Jombang, yang berubah putih pekat.
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Air sungai di sepanjang Jalan KH Wahab Hasbullah, Desa Tambakrejo, Kecamatan/ Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berubah jadi putih pekat. Baunya pun menyengat hidung.

Seorang pedagang jeruk yang berjualan di pinggiran jalan dan sungai tersebut mengatakan, sudah tiga hari air sungai berubah warna menjadi putih pekat. Menurut pantauannya, semula perubahan warna air tersebut awalnya sendikit. Tapi kini, menjadi banyak. Ia tidak mengetahui secara pasti, mengapa air sungai tersebut bisa berubah menjadi putih.

Baca Juga

“Tiga hari ini warnanya putih pekat mirip susu. Baunya nggak enak. Tapi kadang menyengat sekali. Kadang nggak terlalu,” kata dia yang menolak menyebut namanya.

Sementara itu, Prigi Arisandi dari Ecoton, komunitas yang concern pada perlindungan lingkungan hidup, mengatakan, perbuahan warna air sungai menjadi putih, dimungkinkan karena limbah domestik atau detergen.

“Bisa jadi itu limbah domestik (detergen) dari pemukiman. Sangat dimungkinkan jika di sekitar sungai banyak dijumpai pemukiman,” ujarnya.

Kemungkinan yang kedua, menurutnya, bisa dari limbah industri yang menghasilkan limbah organik seperti pabrik tahu. Hal ini bukannya tidak berbahaya. Berubahnya air diakibatkan limbah domestik maupun pabrik, dapat menggangu sistem pernafasan dan gangguan saraf.

“Polusi bau sangat mengganggu sistem pernafasan. Apalagi jika dalam limbah atau bau yang ditimbulkan mengandung senyawa berbahaya seperti amoniak,” katanya.

Munculnya bau tak sedap, lanjut dia, timbul dari proses dekomposisi limbah cair organik oleh mikroorganisme yang menghasilkan gas sulfur, kemudian menimbulkan bau.

“Berbahaya bagi pernafasan. Jika manusia terpapar dalam jangka waktu yang lama. Selain sistem pernafasan, bau ini akan berdampak pada gangguan sistem saraf, seperti sakit kepala, epilepsi, amnesia, alzheimer dan meningitis,” tutur Prigi Arisandi.

Untuk mengetahui secara pasti, sambungnya, perlu dilakukan identifikasi sumber pencemaran. Serta pengukuran senyawa kimia atau organik sebagai indikator untuk mengetahui sumbernya seperti nitrat, amonium, pospat dan chlorin.

INSTAGRAM

Berita Terkait